“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhiratlah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. al-Ankabut: 64).
Semua insan berharap meraih kehidupan bahagia di dunia (dan di akhirat). Lebih-lebih kehidupan di akhirat yang abadi, yang sangat panjang dan dahsyat kesengsaraannya bila tak bahagia. Tentunya ini sebuah harapan terhadap hasil yang baik, yang tak akan didapat kecuali dengan proses yang baik. Namun, harapan seperti itu kadangkala bertolak-belakang dengan usaha-usaha yang kita tempuh ketika mengarungi dunia ini.
Tanpa sepenuhnya disadari, sebahagian kita benar-benar terlelap dalam buaian kesenangan dunia. Bahkan pada saat yang sama, melupakan akhirat. Hidup ini seakan-akan kesempatan untuk semata-mata memungut kesenangan demi kesenangan dunia. Bila itu memang yang kita harapkan, akan diberikan oleh Allah, sebagaimana janjiNya dalam Alquran. Tapi jangan menagih harapan kehidupan baik di akhirat kelak.
Sejatinya kita belajar banyak dari hamba-hamba sukses dalam mengarungi samudera kehidupan dunia menuju kehidupan yang sebenarnya di akhirat. Apalagi kita selalu berdoa melalui shalat agar ditunjuki ke jalan yang pernah ditempuh orang-orang yang taat kepada Allah. Luqman Al-Hakim adalah di antaranya. Ia mengibaratkan dunia ini dengan lautan dalam, yang bisa menenggelamkan manusia. Agar tidak tenggelam, dia mengajak untuk senantiasa menggunakan perahu, yaitu taqwa kepada Allah. Isinya iman kepada Allah dan layarnya tawakkal kepadaNya. Beliau juga mengingatkan agar berpuasa dari dunia dan berbuka nanti di akhirat.

Post a Comment