Headlines News :
Home » , » Makin Buruk Cara Aceh Berdemokrasi

Makin Buruk Cara Aceh Berdemokrasi

Teror dan kekerasan terkait agenda politik dan dekmokrasi di Aceh mendominasi pemberitaan di halaman depan Harian Serambi Indonesia dalam tiga hari terakhir. Sabtu lalu ada berita tentang terbunuhnya T Muhammad Zainal Abidin (35) alias Cekgu yang tercatat sebagai kader Partai Nasional Aceh (PNA) Pidie. 

Polisi memastikan Cekgu tewas ditembak orang tak dikenal di satu tempat, lalu jasadnya dimasukkan ke dalam mobil dan dibuang bersama mobilnya itu ke aliran Krueng Tiro, Pidie. Belakangan terungkap pula bahwa istrinya pun sering diancam bunuh. 

Kejadian lainnya, belasan pria melemparkan batu ke rumah Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pase, Tgk Zulkarnaini Hamzah, Jumat (26/4) sekitar pukul 02.10 WIB, saat ia tak di rumah. Akibatnya, kaca jendela, kanopi, dan kaca lubang angin rumah itu pecah.

Kemarin, kita dikagetkan lagi dengan berita seorang perempuan, Aulia Putri yang terdaftar sebagai bacaleg PNA di Aceh Utara diteror orang yang belum teridentifikasi dengan cara menembakkan ‘peluru batu’ dari ketapel ke rumahnya. Sang caleg akhirnya melaporkan kasus itu ke polisi setelah rumahnya diketapel tiga kali, Jumat (26/4) malam.

Faktanya, bukan bacaleg dari PNA saja yang diteror, tapi juga  dua wanita yang terdaftar sebagai bacaleg Partai Kebangkitan Bangsa Pidie dan Pidie Jaya. Mereka tak hadir pada tes baca Quran di Asrama Haji Banda Aceh, Sabtu (27/4), karena tak diizinkan keluarga masing-masing. Keluarganya cemas dengan peristiwa yang dialami kader-kader parpol sejak beberapa hari terakhir.

Bila dicermati kasus per kasus, makin menguatkan asumsi bahwa saat ini memang sedang berlangsung teror yang dilakukan preman politik terhadap bacaleg atau kepada kader parpol. Ketua Umum DPP PNA, Irwansyah malah menyatakan PNA akan melawan teror tersebut dan dia targetkan PNA harus menang melawannya. 

Ketika teror terhadap parpol dilawan dengan teror, kita patut bertanya akan dikemanakan peran aparat keamanan? Sedianya, pihak kepolisian yang segera angkat bicara untuk menyelesaikan persoalan ini. Aparat keamanan pun harus ekstraperhatian, mengingat eskalasi bentrokan antarcaleg atau antarparpol tahun ini kian meluas, seperti meluasnya perseteruan antartim sukses dalam Pilkada Aceh tahun lalu.

Dari seluruh prahara kekerasan dalam proses pileg kali ini makin membuktikan betapa besarnya risiko berbeda ideologi politik di Aceh. Di sisi lain, semua itu makin menyiratkan betapa buruknya cara kita melakoni demokrasi menjelang pileg. Wajah kekerasan kita kian kentara. 

Praktik demokrasi kita di nanggroe syariat ini bukannya makin dewasa dan santun, tapi justru makin ganderung pada kekerasan. Kalau cara-cara brutal ini tidak kita hentikan sekarang, maka tak ada lagi yang pantas kita banggakan dan layak ditiru masyarakat internasional dari cara Aceh berdemokrasi setelah tujuh tahun nikmat perdamaian kita nikmati melalui MoU Helsinki. Semakin lama dalam rangkulan perdamaian, sedianya membuat semua kita kian beradab.

Sumber : serambinews.com
Share this post :

Post a Comment

 
Design by : 7 Keajaiban Sedekah
Copyright © 2011. VoAlink.com - All Rights Reserved
Template by Creating Website
Powered by Blogger