Setiap penghobi otomotif punya cara sendiri untuk memanjakan
mobilnya. Tak perlu mengeluarkan kocek tebal, oto kesayangan tetap bisa
tampil garang dengan audio dipadu visual nan cantik. Berikut cerita
singkat dari Manajer GTS Variasi Balikpapan, Herlina Riswanto.
HONDA Odyssey warna ungu itu tampil elegan di sudut parkir
bengkel variasi milik GTS Balikpapan di Jalan Ahmad Yani, Balikpapan,
Sabtu (27/4). Terlihat sederhana, mobil pabrikan asal Jepang ini
dilengkapi Global Positioning System (GPS). Layar mini mirip head unit
televisi monitor itu terlihat “manis”. Meski kecil, layar itu memiliki
fungsi untuk mengetahui keberadaan si pengendara. Head unit mobil ini
pun tak begitu ekstrem, sederhana tapi mampu menghasilkan suara yang
mendebarkan dada. Sebab mobil ini juga dilengkapi bass tube. Suara yang
dihasilkan bisa bikin bergoyang pengendara. Ya, itu salah satu mobil
yang dimiliki GTS Variasi Balikpapan.
Herlina mengatakan, kini tak banyak lagi pemilik mobil yang mengubah
audio hingga ke tampilan interiornya atau sering disebut audio
modifikasi ekstrem. Warga di Kaltim sudah mulai meninggalkan modifikasi
audio ekstrem sejak 2010. Dulu, kata dia, sekitar tahun 2000-an banyak
penghobi otomotif atau sejumlah pemilik mobil tak sekadar mengubah suara
menjadi lebih keras, tapi juga mengganti tampilan supaya garang. Tapi
itu memerlukan waktu yang cukup lama, sekitar sebulan hingga enam bulan.
Hanya saja biasanya jika full modifikasi itu akan memengaruhi tarikan
mobil. Bahan Bakar Minyak (BBM) pun akan cepat habis, karena beban mobil
lebih berat dari semula.
Tahun 2000 ke atas memang banyak kontes modifikasi mobil dan audio.
Sehingga banyak penggemar otomotif maupun pemilik mobil berlomba-lomba
menampilkan audio dan desain otonya. Dengan garansi, semakin garang
penampilan mobil, bisa meraih gelar juara kala kontes itu. Meski hadiah
kontes tak seberapa, menang kala kompetisi sudah menjadi kepuasan
tersendiri bagi pemilik mobil.
Perlahan kontes mobil di Kaltim mulai memudar. Penghobi otomotif banyak
yang berhenti memodifikasi mobilnya secara ekstrem atau full
modifikasi. Mereka mengalihkan modifikasi audio secara sederhana tapi
terlihat elegan. Terlebih modifikasi ekstrem pada audio itu memerlukan
biaya yang besar. “Bisa sampai ratusan juta rupiah, Mas,” kata perempuan
yang akrab disapa Lina ini.
Setelah 2010 ke atas, sudah cukup jarang ditemukan pemilik mengubah
audio mobilnya full modifikasi. Terlebih mobil keluaran terbaru saat ini
kondisi audionya sudah cukup modern. Sehingga cukup ditambah speaker
split dan bass tube, itu sudah menghasilkan suara yang jernih dan
dinamis. Jika kurang puas, pemilik mobil bisa menambahnya dengan speaker
coaxial. Suara yang dihasilkan pun akan lebih memuaskan.
Kata dia, bass tube adalah komponen speaker mobil untuk meningkatkan
output bass pada suara. Cukup dengan alat itu bisa membuat tampilan
interior mobil lebih simple tanpa menggunakan boks. Tak perlu menambah
subwoofer karena bass tube sudah didesain lengkap dengan alat untuk
mengeluarkan suara bas. “Kalau pengendara hendak membawa barang banyak,
sementara mobil sempit, bass tube bisa dilepas. Jadi alat ini tak
permanen sifatnya,” jelasnya.
Namun diakuinya, suara yang dihasilkan melalui bass tube dengan
subwoofer secara terpisah, tak sejernih jika terpisah. “Tapi bass tube
tak kalah lah. Dan alat ini lebih unggul karena simpelnya,” imbuhnya,
seraya tersenyum. Lina membeberkan, konsep modifikasi audio secara
sederhana itu, selain menambah kesan elegan, keaslian atau kesan natural
pada mobil tak berubah. Jika modifikasi ekstrem jelas mengubah suara
dan tampilan. Itu akan memengaruhi pada harga pasaran ketika mobil
dijual.
Setelah memodifikasi audio, pemilik kendaraan bisa menambah visualnya.
Seperti pemasangan televisi di head unit. Pengendara dan orang yang
berada di dalam mobil bisa menonton film dengan suara yang garang. Tak
sekadar mendengarkan musik. Menurutnya, kini pemilik mobil trennya tak
sekadar memperbaiki kualitas audio, tapi juga dipadukan dengan visual
berupa layar televisi. Jika masih kurang, pemilik bisa menambah monitor
headrest headdress pada jok mobilnya.
Apalagi monitor headrest headdress dan head unit monitor itu bisa
menampilkan tayangan televise yang berbeda-beda. Sebagai gambaran, jika
pengemudi hendak memutar suatu film di head unit monitor. Penumpang di
jok belakang bisa memutar film lainnya sesuai kesukaan. Jika tak ingin
memengaruhi suara yang doubling. Penumpang di belakang bisa memakai
headset. Besarnya monitor televisi yang diinginkan oleh pemilik mobil
juga beragam. Ukurannya mulai 6,5 hingga 8 inci. Setiap pembelian
monitor ini biasanya sepasang. Harga satu pasang di kisaran Rp 2 juta
hingga belasan juta rupiah, tergantung merek.
Ia mengatakan, cukup mengeluarkan kocek sebesar Rp 10 juta sudah
memiliki sepasang dua televisi berukuran 7 inci ditambah bass tube,
speaker split, dan speaker coaxial sudah membuat mobil terlihat elegan.
“Jika ingin yang lebih mahal, maka hasilnya kian bagus,” terangnya.
Modifikasi audio sederhana ini cukup simpel dan tak memerlukan waktu
yang lama. Cukup sehari sudah rampung. Tak seperti modifikasi ekstrem
yang memerlukan waktu sebulan hingga berbulan-bulan. (rom/k1)
Post a Comment